Diantara fikiran yang menyiksa
manusia adalah tentang kematian dan berakhirnya kehidupan. Siapa yang tidak
akan merasakan kematian??. Itu namanya bukan makhluq.. karna setiap yang
bernyawa mesti akan mengalami yang mati dan akan menjumpai yang namanya akhir
dari kehidupan..
Manusia terkadang bingung dan
bertanya kepada diri sendiri: Mengapa akau dilahirkan kedunia dan mengapa aku
meninggalkannya??. Apa yang menjadi tujuan yang dibangun dan dimusnahkannya
dunia ini?? Bukankah perbuatan itu merupakan kesiasiaan yang tidak berguna dan
berfaedah?
Khayyam mengatakan:
Raja
yang mengatur susunan tabiat ini, mengapa didalamnya ada yang hina dan
dicemooh?? Kalaulah sejak semula alam ini indah dan baik, mengapa dia
mengubahnya dengan kejelekan??. Kalaulah alam ini jelek, siapakah yang
seharusnya yang bertanggungjawab??.
Peminum
dari cangkir yang indah ini, tentulah tidak akan rela melihatnya hancur. Betapa
banyak kaki dan tangan yang indah serta wajah-wajah yang ceria, mengapa dia
dicipta? Lalu mengapa dia dibiarkan sirna?.
Itulah piala yang mencengangkan akal, lantas
akal mencimnya ratusan kali. Pencipta zaman telah membuat piala sehalus ini, kemudian
dia membiarkannya tercecer ditanah.
Kegelisahan
menghadapi kematian merupakan salah satu faktor yang telah mendorong lahirnya
filsafat pesimisme. Para filsuf pesimisme menggambarkan bahwa hidup dan
eksistensi ini tidak bertujuan dan berfaedah, kosong dari kebijaksanaan. Pandangan ini membuat mereka
gundah dan bimbang, dan kadang-kadang membuat mereka menimbulkan pemikiran
untuk bunuh diri. Mereka berfikiran: Kalau seandainya kita harus berpisah
dengan kehidupan ini, mengapa kita dilahirkan kedunia?. Sekarang setelah kita
dilahirkan kedunia tampa kehendak kita, mengapa kita harus melakukan sesuatu
untuk menghentikan kesiasiaan ini?. Dan dengan menghentikan kesiasiaan ini
berarti kita telah melakukan sesuatu yang sangat penting..
Khayyam mengatakan
lagi dalam syairnya:
Sekiranya
kedatanganku ini atas kemauanku, sungguh aku tak akan datang.
Sekiranya
kejadiaanku ini atas kehendakku, sungguh aku tak akan menjadi
Bukankah
yang terbaik didunia ini yang bakal dimusnahkan adalah keadaan tidak akan
datang, tidak menjadi, dan tidak mewujud?
Seyampang
urusan manusia dibumi yang getir ini tak lain dari tersiksa, sampai ruh
meninggalkan jasad...
Maka
orang yang paling bahagia adalah orang yang cepat meninggalkan alam ini.
Dan
yang lebih bahagia lagi adalah orang adalah orang yang tidak pernah tiba di
bumi ini.
Sekiranya
satu saja kudapat pohon harapan, sungguh aku telah mendapatkan ujung jarumku.
Sampai
kapan aku berada dipenjara ujud yang sempit iini??
Duhai...kapan
kiranya aku ini menemukan jalan menuju ketiadaan..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar