Kamis, 15 November 2012

Fanomena Kematian


Diantara fikiran yang menyiksa manusia adalah tentang kematian dan berakhirnya kehidupan. Siapa yang tidak akan merasakan kematian??. Itu namanya bukan makhluq.. karna setiap yang bernyawa mesti akan mengalami yang mati dan akan menjumpai yang namanya akhir dari kehidupan..
Manusia terkadang bingung dan bertanya kepada diri sendiri: Mengapa akau dilahirkan kedunia dan mengapa aku meninggalkannya??. Apa yang menjadi tujuan yang dibangun dan dimusnahkannya dunia ini?? Bukankah perbuatan itu merupakan kesiasiaan yang tidak berguna dan berfaedah?


Khayyam mengatakan:
Raja yang mengatur susunan tabiat ini, mengapa didalamnya ada yang hina dan dicemooh?? Kalaulah sejak semula alam ini indah dan baik, mengapa dia mengubahnya dengan kejelekan??. Kalaulah alam ini jelek, siapakah yang seharusnya yang bertanggungjawab??.
Peminum dari cangkir yang indah ini, tentulah tidak akan rela melihatnya hancur. Betapa banyak kaki dan tangan yang indah serta wajah-wajah yang ceria, mengapa dia dicipta? Lalu mengapa dia dibiarkan sirna?.
 Itulah piala yang mencengangkan akal, lantas akal mencimnya ratusan kali. Pencipta zaman telah membuat piala sehalus ini, kemudian dia membiarkannya tercecer ditanah.
Kegelisahan menghadapi kematian merupakan salah satu faktor yang telah mendorong lahirnya filsafat pesimisme. Para filsuf pesimisme menggambarkan bahwa hidup dan eksistensi ini tidak bertujuan dan berfaedah, kosong dari  kebijaksanaan. Pandangan ini membuat mereka gundah dan bimbang, dan kadang-kadang membuat mereka menimbulkan pemikiran untuk bunuh diri. Mereka berfikiran: Kalau seandainya kita harus berpisah dengan kehidupan ini, mengapa kita dilahirkan kedunia?. Sekarang setelah kita dilahirkan kedunia tampa kehendak kita, mengapa kita harus melakukan sesuatu untuk menghentikan kesiasiaan ini?. Dan dengan menghentikan kesiasiaan ini berarti kita telah melakukan sesuatu yang sangat penting..

Khayyam mengatakan lagi dalam syairnya:
Sekiranya kedatanganku ini atas kemauanku, sungguh aku tak akan datang.
Sekiranya kejadiaanku ini atas kehendakku, sungguh aku tak akan menjadi
Bukankah yang terbaik didunia ini yang bakal dimusnahkan adalah keadaan tidak akan datang, tidak menjadi, dan tidak mewujud?
Seyampang urusan manusia dibumi yang getir ini tak lain dari tersiksa, sampai ruh meninggalkan jasad...
Maka orang yang paling bahagia adalah orang yang cepat meninggalkan alam ini.
Dan yang lebih bahagia lagi adalah orang adalah orang yang tidak pernah tiba di bumi ini.
Sekiranya satu saja kudapat pohon harapan, sungguh aku telah mendapatkan ujung jarumku.
Sampai kapan aku berada dipenjara ujud yang sempit iini??
Duhai...kapan kiranya aku ini menemukan jalan menuju ketiadaan..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar